Jumat, 15 Mei 2009

Agar Lebih Disukai Allah

 Mengapa ada hamba Allah yang mendapat julukan “ahli hikmah ?” Karena, merekalah orang yang layak mengetahui segala sesuatu yang paling utama dalam hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla.

 Seorang ahli hikmah telah mendapat jaminan yang amat luar biasa dari-Nya, yakni berupa anugerah karunia kebajikan yang banyak. “ Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak “. Surat Al-Baqarah (QS : 2 ; 269).

 Orang yang dengan ijin-Nya mendapatkan karunia al-hikmah adalah mereka yang dalam setiap detik dari hidupnya selalu bersungguh-sungguh mengajar keutamaan-keutamaan amal, sehingga dapat semakin mengenal dan mendekati-Nya. Hati dan pikirannya benar-benar akan selalu disibukkan oleh ikhtiar bagaimana agar ia dapat menyempurnakan amal-amalnya, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Dirinya akan sangat kecewa dan menyesal manakala ada satu saja amalan sunnah yang terlewatkan atau tidak terjaga mutunya. Hari-harinya pun akan dihiasi dengan berjuang sekuat-kuatnya agar terhindar dari kelalaian karena urusan dunia.

 Jangan heran, kalau orang seperti ini kalbunya akan terang benderang lantaran dicahayai oleh nur keyakinan. Padahal “ Andaikata cahaya keyakinan telah menerangi hatinya, “ tulis Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, al-Hikam, “ niscaya engkau dapat melihat akhirat lebih dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki ke sana. (Selain itu) niscaya pula engkau akan dapat melihat segala keindahan dunia ini telah diliputi kesuraman dan kesukaran yang akan menimpanya. “

 Ada sebuah hadits cukup panjang, yang dirawayatkan oleh Anas r.a. Di-riwayatkan, ketika Rasulullah SAW sedang berjalan, beliau bertemu dengan seorang pemuda dari sahabat Anshar. “ Bagaimana keadaanmu pagi ini, hai Haritsah ? “ sapa Rasul.

 “ Kini akau menjadi seorang mukmin yang sungguh-sungguh, “ jawab Haritsah mantap.
 Mendengar jawaban seperti itu, Rasul segera mengingatkan, “ Hai Haritsah, perhatikan kata-katamu. Sebab, setiap kata harus ada bukti hakikinya. “
 Ya Rasulullah, jiwaku jemu terhadap dunia, sehingga aku bangun malam dan shaum di siang hari. Kini seolah-olah aku berhadapan dengan “Arsy dan melihat ahli surga satu sama lain sedang saling menziarahi, sebagaimana seakan-akan kulihat ahli neraka sedang menjerit-jerit di dalamnya. “
 “ Engkau telah melihatnya. Karenanya, jangan berubah ! Engkau seorang hamba yang telah diberi nur iman dalam hatimu, “ ujar Rasul.
 “ Ya Rasulullah, (kalau begitu) doakanlah agar aku mati syahid, “ pinta Haritsah.
 Rasulullah pun lalu berdoa untuknya. Singkat kata, ketika pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad, “ Hai kuda Allah, bersegeralah ! “, maka dialah orang pertama yang menyambutnya dan dia pula yang pertama-tama mati syahid.

 Ketika berita tentang syahidnya Haritsah sampai ke telinga ibunya, maka sang Ibu pun datang menghadap Rasulullah. “ Ya Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku tentang Haritsah, puteraku. Jika dia di surga, aku tidak akan menangis dan menyesalinya. Akan tetapi, jika selain dari itu, maka akau akan menangis selama hidupku di dunia ini. “ ujarnya.
 Rasulullah lalu menjawab, “ Hai Ibu Haritsah, bukan hanya satu surga (baginya), melainkan surga di atas surga-surga. Haritsah telah mencapai Firdaus tertinggi !”.
 Demi mendengar jawaban Rasul seperti itu, maka dengan tersenyum puas kembalilah Ibu Haritsah. “ Beruntung ! Beruntunglah engkau, hai Haritsah !” gumannya penuh syukur.
 Inilah gambaran pasti yang dijaminkan Allah dan Rasulnya. Sampai-sampai ketika menyampaikan kabar kepada sahabat-sahabatnya tentang gugurnya sahabat Zaid bin Haritsah, Ja’far fin Abi Thalib, dan Abdulllah bin Rawahah, radhiyallaahu anhuma, Rasul bersabda, “ Demi Allah, mereka tidak akan senan andaikata masih berada di antara kita. “ Rasulullah memberitahukan hal itu dengan air mata berlinang-linang. Subhanallah !

 Tinggal lagi kita yang hidup di akhir jaman ini. Apa yang bisa kita lakukan agar lebih disukai Allah dan menjadi kekasih-Nya ? Padahal, siapa pun yang dicintai-Nya, niscaya akan melihat janji dan jaminan-Nya yang, demi Allah, pasti tidak akan meleset.

 Kuncinya ternyata adalah dengan bersungguh-sungguh menyempurnakan amal-amal kita di hadapan Allah karena itulah keutamaan yang sangat disukai-Nya. Tampaknya, kita memang harus segera memulai meningkatkan daya juang ke arah ini, sehingga Allah Azza wa Jalla memandang kita layak untuk dikaruniai terbukanya pintu hikmah-Nya.

 Mulailah dengan menyempurnakan amalan fardhu. Shalat di awal waktu, berjamaah dan di masjid – khususnya bagi laki-laki. Berjuanglah sekuat-kuatnya untuk mengejar keutamaan waktu shalat ini. Sekiranya suatu ketika kita tidak meraih shalat tepat waktu, maka belajarlah untuk kecewa, jangan malah sebaliknya. Umar bin Khaththab r.a. ketika shalat Ashar terlambat ke masjid, sehingga kehilangan kesempatanan shalat berjamaah karena sibuk memeriksa ladangnya, ia merasakan kecewa dan menyesal yang amat sangat. Sedemikian dalamnya perasaan kecewanya itu, sehingga ia putuskan untuk mewakafkan ladang tersebut. Kita sebetulnya sanggup melakukan shalat di awal waktu, namun terkadang kita gemar meremehkannya. Padahal, dengan begitu berarti telah mencopot salah satu kemampuan kita sendiri.

 Belajarlah kecewa bila sampai melalaikan keutamaan shalat fardhu. Shalat sengaja diakhirkan, tidak ke masjid, dan munfaridh (shalat sendiri); semua ini jelas-jelas akan membuat cahaya ruhiyah lambat laun menjadi redup. Kita shalat berjamaah di masjid tentu tidak semata-mata karena termotivasi oleh hitungan pahala, dua puluh tujuh kali lipat. Karena, perkara yang satu ini memang sudah menjadi janji dan jaminan-Nya.

 Akan tetapi, janji pahala yang banyak tersebut hendaklah diartikan sebagai isyarat bahwa Allah lebih suka terhadap amalan kita itu dua puluh tujuh kali lipat ketimbang shalat sendirian di rumah, Tidakkah kita suka bisa berbuat sesuatu yang lebih disukai Allah ?. 

 Setelah amalan fardhu berhasil di sempurnakan – lebih-lebih bila mampu ber-istiqamah di dalamnya – marilah kemudian kita dekati Allah dengan amalan sunnah. Tingkatkan shalat-shalat sunnah kita, baik kuantitas maupun kualitasnya, sesuai yang telah ditetapkan syariat. Jangan sampai ada satu shalat pun yang dicontohkan Rasulullah SAW yang tidak dilakukan. Terutama shalat sunnah yang mendapingi shalat fardhu.

 Ketahuilah, shalat qabla Subuh itu ganjarannya lebih besar daripada dunia berikut isinya. Sayang sekali kalau kita sampai meninggalkannya. Shalat tahiyyatul masjid adalah shalat penghormatan terhadap masjid, yang memiliki keutamaan (fadhilah) tersendiri. 
Umar bin Khathtab ketika sedang berkhutbah Jum’at pernah menegur seseorang yang masuk ke masjid, tetapi langsung duduk, agar mendirikan shalat tahiyyatul masjid terlebih dahulu. Ini menunjukkan betapa shalat sunnah yang satu ini sangat diperhatikan menjadi amalah para sahabat Nabi SAW.

 Shalat syukrul wudhu (shalat thuhur) dua rakaat setiap kali usai berwudhu, jangan sekali-kali usai berwudhu, jangan sekali-kali diabaikan. Demikian pun shalat sunnah qabla dan ba’da Zhuhur, ba’da Maghrib dan Isya, serta qabla Subuh. Sungguh, merupakan shalat-shalat sunnah yang akan menyempurnakan shalat fardhu kita sekiranya ada kekurangan di sana-sini. Lebih-lebih lagi kalau kita berjuang untuk dapat mendirikan shalat tahajjud di sepertiga akhir malam. Inilah shalat sunnah yang memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Sampai-sampai Allah Azza wa Jalla me-nash-kannya langsung dalam Al-Qur’an.

 Firman-Nya, “ Dan pada sebagian malam hari shalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. “ Surat Al-Israa (QS : 17 ; 79).

 Demikian juga Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “ Rabb kita turun setiap malam ke langit dunia, ketika tinggal sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “ Siapa yang memohon kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Siapa yang meminta kepadaKu, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampunanKu, Aku akan mengampuninya. “ (H.R. Bukhari, Muslim dll).

 Adapun ketika mendirikan shalat, usahakan sekuat-kuatnya untuk disempurnakan, baik secara syariat fiqihnya (menyangkut tata cara dan bacaannya), maupun secara hakikat ketauhidannya (menyangkut keikhlasan dan kekhusyukannya). Usahakan mengerti arti dari setiap bacaannya agar kita bisa menghayati dan menikmati kalimat demi kalimat yang terucap.

 Ketika sujud, misalnya, cobalah dipertama agar segenap jiwa dan raga kita benar-benar bisa menyadari dan mengakui bahwa Allah yang Mahasuci, adalah satu-satunya Dzat yang Mahatinggi dan pasti mustahil ada yang lebih tinggi daripada-Nya. Lagi pula, bukankah saat yang terdekat seorang hamba dengan Khaliknya adalah ketika sedang bersujud. Sehingga doa-doa yang kita mohonkan ketika bersujud Insya Allah akan sangat diijabah ?.

 Shaum sunnah Senin dan Kamis, betulkah tidak kuat ? Bukankah shaum Ramadhan sebulan penuh saja kita kuat ? Sebetulnya yang tidak kuat itu adalah tekadnya ! Oleh sebab itu, sekiranya kita menginginkan lebih disukai Allah, mulailah memancangkan niat dan membulatkan tekad untuk mengamalkannya. Mohonlah pertolongan-Nya, “ Ya Rabb, ijinkanlah hamba mendekati-Mu dengan shaum yang telah dicontohkan kekasih-Mu !”

Betapapun amalan shaum itu memiliki keutamaan yang juga luar biasa. Bagi yang shaum, Allah menciptakan benteng perisai dari kemungkian-kemungkinan berbuat maksiat mata, mulut, telinga, tangan, kaki, bahkan hati ikut shaum, sehingga saat shaum-lah justru saat terkikisnya dosa-dosa. Doa-doa yang kita panjatkan akan mustajab.

Cahaya ruhiyah dalam kalbu akan mulai menyala, menerangi setiap sudutnya. Seorang ahli shaum yang bermutu derajat kemuliaannya akan cepat melesat. Bahkan, bukankah pahal bagi ahli shaum itu tidak terhitung banyaknya ?.

Selain dari itu, dekatilah Allah dengan istiqamah membaca Al-Qur’an. Mengapa kalau membaca koran atau majalah kita merasa ringan mengerjakannya, sedangkan membaca itat Allah begitu berat ?. Ya, karena amalah inilah justru yang akan mengasah ruhiyah kita.

Orang yang gemar melakukan amalan membaca Al-Qur’an adalah orang yang selalu menggantungkan harapan akan curahan karunia Allah, sehingga Dia pun tidak mungkin sampai menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh istiqamah untuk membaca surat-surat-Nya. Rasulullah SAW pernah bersabda : Bacalah Al-Qur’an seraya berharap akan karunia Allah Ta’ala (H.R. Abu Dawud).

Oleh sebab itu, hendaknya jangan sampai kita terlepas dari amalan yang penuh keutamaan ini. Biasakanlah setiap sebelum shalat atau ba’da shalat, atau setidak-tidaknya setiap ba’da Subuh kita membaca Al-Qur’an. Akan jauh lebih baik lagi bila mengerjakan amalan ini dengan mudawwamah (rutin) kendati hanya tiga atau lima ayat.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW, bahwa amalan yang paling disukai oleh Allah itu adalah yang dikerjakan dengan mudawwamah walaupun amalan itu sangat kecil dan ringan mengerjakannya.

Tentu saja Allah amat mengerti keterbatasan kemampuan kita dalam membaca Al-Qur’an. Sebagian dari kita mungkin sudah mampu membacanya dengan makhraj dan tajwid yang benar. Sebagian lagi mungkin masih terbata-bata, atau bahkan baru belajar. Bagi Allah, bukan soal lancar atau baru belajarnya, melainkan tekad kitalah yang membuat Dia memperhitungkan pahala-pahala yang melimpah atas amalan kita.

Amalan lain yang juga sangan disukai Allah adalah bersedekah. Mengapa ita mesti kikir, padahal uang ini bukanlah miliki kita ? Kendatipun kita enggan menyedekahkannya, tetapi sekiranya Allah Berkehendak mengambil kembali, toh akhirnya akan terlepas juga dari genggaman kita. Mengapa kalau untuk merokok dengan mudahnya kita keluarkan uang, tetapi untuk berinfaq di jalan Allah begitu berat mengeluarkannya ?

Padahal, setiap kali kita keluarkan harga yang dimiliki, demi Allah, tidak akan pernah merugikan kita sekiranya dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Dengan berinfaq, bala bencana akan tertolak. Dengan Berinfaq, Allah akan membuat hati orang-orang menjadi lunak, sehingga menyayangi kita. Demikian pun ksih sayang-Nya akan tercurah melimpah ruah.

Belum lagi balasan dari-Nya akan dilipatgandakan antara sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Karena sedekah merupakan perwujudan rasa syukur atas segala karunia nikmat yang telah Allah curahkan kepada kita. Dan setiap syukur nikmat dari seorang hamba akan berbuah tercurahnya nikmat yang lebih besar lagi dari-Nya. Sebaliknaya kufur nikmat, yanag diwududkan antara lain dengan keengganan membelanjakan harga kita dijalan Allah, tidak bisa tidak akan mengundang murka-Nya berupa azab yang teramat pedih. “ La insyakartum la-azidannakum, wala inkfatum inna ‘adzaabi lasyadiid. “ Surat Ibrahim (QS. 14 ; 7)
 
Sedekah pun merupakan cerminan dari seberapa bagus mutu iman kita. Banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang amalan sedekah yang selalu dikaitkan dengan iman. Antara lain, dapat kita simak dari firman-Nya ini “ Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah, yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka “. Surat Al-Hajj (QS : 22 ; 34-35).

Betapa orang yang bersedekah dengan orang yang tidak bersedekah sangat berbeda derajatnya dalam pandangan Allah. Sampai-sampai malaikat pun memanjatkan doa yang berbeda kepada keduanya. Rasulullah bersabda : “ Setiap hari dua malaikat turun dari langit. Malaikat yang satu berdoa, “ Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah. “ Sedangkan malaikat yang satunya lagi berdoa “ Ya Allah, berikanlah kerusakan kepada orang-orang yang menahan hartanya. “

Oleh karenanya, bagi yang masih enggan berinfaq, cobalah bertanya keapada diri sendiri, “ Mengapa saya mesti kikir ? Mengapa kalau saya ingin memberli kebutuhan perut begitu entengnya, sedangkan untuk berinfaq atau berwakaf di jalan Allah terasa begitu berat ? Mesti ada yang salah pada diri saya. “ 

Hendaknya setiap kali kita akan membeli makanan berkalkulasi terlebih dahulu. “ Mengapa saya harus mengeluarkan uang sebesar ini untuk makan. Bisakah saya lebih hemat lagi, sehingga sebagian uang ini bisa saya sedekahkan aau saya wakafkan ? “

Andai kita mampu menyisihkan seribu rupiah saja untuk diwakafkan, betapa kita telah menanamkan uang itu untuk dimanfaatkan oleh generasi-generasi Islam berikutnya, yang terus menerus tidak akan terputus hingga kiamat nanti. Sungguh luar biasa dampaknya. Untuk kita yang berwakaf pahalanya mengalir tiada terputus, untuk ummat pun alangkah besar menfaatnya. Nah, hal seperti ini hendaknya mulai kita pikirkan. Menikmati berhemat dan berkorban untuk Allah daripada sekedar untuk memuaskan hawa nafsu sendiri, niscaya akan membuat kita memiliki chaya ruhiyah yang amat mengesankan.

Yakinlah, bahwa Allah yang Mahaperkasa saat ini sedang memperhatikan segala gerak-gerik hati, pikiran, dan jasad kita. Karenanya, “Fa idzaa ‘azamta, fa tawakkal ‘alallaah. “ Bulatkan tekad, sempurnakan niat, ilmu, maupun ikhtiarnya, barulah setelah itu serahkan segala urusan kepada Allah.

Sekiranya malam ini kita ingin bertahajjud, segera pancangkan niatnya dan sempurnakan ikhtiar untuk menyongsongnya. Putarlah jam weker ke waktu yang ditentukan, tidurlah lebih awal, dan jangan lupa panjatkan doa kepada Allah, “ Ya Rabb, sesungguhnya hanya Engkaulah yang menhidupkan dan mematikan siapa pun yang Engkau kehendaki. Ijinkanlah aku bersujud di waktu yang paling Engkau sukai ........ “:

Subhanallah. Allah Azza wa Jalla pasti Maha Melihat kesungguhan kita. Karenanya, janji-Nya pun pasti, “ Dan orang-orang yang berjihat (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik “. Surat Al-Ankabuut (QS : 29 ; 69).

Siapa pun yang bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Dia pun akan lebih bersungguh-sungguh lagi menuntun jalannya. Sejengkel kita mendekati Allah, maka Dia akan mendekati kita sehasta. Sehasta kita mendekati-Nya, maka Dia akan mendekati kita sedepa.

Dan, bila kita mendekati Allah dengan berjalan, niscaya Dia akan berlari menyongsong kita. Begitu dahsyatnya kasih sayang Allah !.

Oleh sebab itu, manakala kita bisa melakukan suatu amalan, maka ini merupakan satu isyarat bahwa Dia akan mengaruniai kita kesanggupan untuk beramal yang lebih banyak lagi. Jangan sampai disia-siakan peluang ini dengan terhenti sampai pada amalam tersebut. Bergeraklah terus. Bangkitkan diri kita, sehinnga bisa terus berubah ke arah yang lebih baik lagi daripada yang sudah-sudah. Akan kia buktikan sendiri nanti, betapa hidup ini begitu indah, bermakna, penuh dengan cahaya karunia nikmat-Nya.

Semoga Dia yang Maha Mendengar dan Maha Menyaksikan menggolongkan kita menjadi orang yang memiliki tekad yang kuat untuk berubah, yakni mampu menikmati bersujud dan mengingat-Nya. Mudah-mudahan hidup yang hanya sekali di dunia ini dibuat indah oleh-Nya meski apa pun yang terjadi. Ketika dikaruniai nikmat, Allah mengaruniai kita kesanggupan untuk merasakan lezatnya bersyukur. Saat diberi ujian, Allah mengaruniai kita kesanggupan untuk merasakan nikmatnya menjadi ahli sabar.

Ya Rabb, cintakanlah hamba-hamba-Mu kepada segala amal kebajikan yang dapat mengundang cinta-Mu. ......”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar